Pasang Surut Perjalanan Juventus, Sang Legenda Sepak Bola Dunia

Pasang Surut Perjalanan Juventus, Sang Legenda Sepak Bola Dunia

Bermula dari nama Societa Via Port, Juventus dibentuk pada tahun 1897. Kemudian nama Societa Via Port berganti menjadi Societa Sportive Massimo D’Azeglio, tapi nama tersebut tak jua memberi keberuntungan sehingga Sport Club Juventus akhirnya dipakai. Ternyata, nama tersebut berhasil menarik hati para pendiri sehingga mereka pun sepakat menggunakannya.

Juventus berbasis di Turin, Piedmont, Italia. Klub ini sudah mengalami pahit manis dunia sepak bola Italia dan Eropa. Juventus sudah mengarungi beragam sejarah yang mematangkannya sebagai klub tersukses dalam sejarah Liga Italia Serie A. Dengan raihan 28 gelar juara, Juventus menempatkan diri sebagai klub terbaik Italia di abad ke-20 dan dianggap sebagai legenda sepak bola dunia.

Rekam Raihan Terbaik Juventus

Juventus mulai mendapat perhatian di tahun 1897. Walaupun pertandingan pertama Juventus berakhir dengan kekalahan, bahkan menjadi bulan-bulanan. Rupanya, hal itu sama sekali tidak membuat Juventus mendapat hinaan, justru menuai pujian. Skill individu para pemain yang dianggap lumayan dan memiliki potensi untuk berkembang, menjadikan tim satu ini mendapat pujian bahkan dari sang lawan.

Pada 1900, Juventus sudah menjadi bagian liga profesional dan mencapai final fi musim kompetisi 1903-1904. Sukses pertama Juventus diraih pada 1905, ketika menjuarai grup Piedmont dengan mengandaskan Milan dan menahan seri Genoa. Sukses kedua niscaya akan diraih, andai saja Juventus tidak memutuskan walk-out dari pertandingan final kompetisi 1906 ketika berhadapan dengan AC Milan.

Juventus baru meraih kembali momentum saat membungkan Genoa di final Grup Utara pada tahun 1920, walaupun kala itu Juventus gagal mencicipi gelar juara karena dijegal oleh Inter Milan. Berkat pengambilalihan kepemilikan Juventus di tahun 1923 oleh Edoardo Agnelli, pemilik FIAT, Juventus kembali meraih scudetto kedua pada 1925 dengan menekuk Alba Roma dengan agregat 12-1.

Pasang Surut Perjalanan Juventus

Masa-masa berikutnya, Juventus mengalami pasang-surut prestasi. Bergabungnya Omar Sivori dan John Charles di tahun 1957 membuat Juventus dapat meraih gelar ke sepuluh. Namun, di musim berikutnya Juventus harus puas berada di posisi 4. Barulah di 1959 Juventus kembali meraih juara dan memertahankannya selama dua tahun berikutnya. Setelah itu, performa Juve kembali surut dan baru kembali bangkit di 1966.

Adanya konfik di dalam Juventus, membuat klub ini tak mendapat gelar apa pun pasca 1966. Dengan perubahan formasi pemain, taktik, pelatih, serta perombakan manajemen klub, akhirnya bisa mengantarkan Juventus meraih puncak di 1971. Permainan apik Bettega dan Causio kala itu dapat meredam AC Milan. Lalu kehadiran penjaga gawang Dino Zoff dan Jose Altafini di tahun berikutnya memperpanjang gelar Juventus.

Kebangkitan Sang Legenda

Masa perjalanan yang panjang telah merekam gelar dan kesuksesan Juventus. Masa keemasan berganti dengan keterpurukan, badai skandal mengguncang Juventus, menyebabkan klub ini harus turun kasta ke Serie B pada musim 2006-2007. Hal ini tentu saja membuat para pemain, official dan pendukung Juventus begitu kecewa, membayangi kiprah sang legenda di Serie B.

Namun, setelah berhasil meraih kemenangan atas Crotone, Piacenza, Modena, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia, Juventus kembali mendekati zona promosi. Pada musim 2007-2008, Juventus kembali merumput di Serie A. Bangkit dari kubur, Juventus mengamuk di awal kembalinya ke Liga utama. Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, Tiago, Almiron, Vicenzo Iaquita, Nocerico dan Salihamidzic, rupanya mampu membuat Juventus memberi gebrakan di awal musim.

Juventus berhasil menekuk Liorvo 5-1 pada pertandingan perdana, kemudian membekuk Cagliari 3-2, menahan imbang AS Roma dengan skor 2-2, dan memecundangi Reggina dengan 4-0, menekuk Empoli 3-0, dan menahan sang juara bertahan dengan skor 1-1. Musim itu Juventus kembali memosisikan dirinya ketiga besar setelah berhasil menundukkan AC Milan, Parma, Atlanta dan Lazio.

Memang Juventus tidak berhasil menduduki posisi puncak, tapi untuk sebuah klub yang baru saja merangkak naik dari Serie B, posisi tiga bukanlah raihan yang buruk. Juventus juga mencatatkan kebanggaan lain di musim itu melalui sang kapten, Del Piero yang berhasil menjadi top scorer dengan menyarangkan 21 gol ke gawang lawan di sepanjang musim.